Showing posts with label to mend a heart. Show all posts
Showing posts with label to mend a heart. Show all posts

Sunday, August 26, 2012

Post Ramadhan entry

in the name of Allah The Most Beneficent The Most Merciful

As salam & Good day readers! ;)

Alhamdulillah.. sampai sudah ke syawal 1433H. Dan hari ini sudah 9 Syawal. Cepat betul masa berlalu. Cuti pun dah habis. Kembali ke realiti dunia bekerjaya. Dunia yang perlukan kekuatan hati & pendirian teguh. Hakikat kerja yang berdepan dengan kerenah manusia selalunya menyebabkan hati patah.

Bukan susah tak dapat menyelesaikan masalah punca utama rasa moral jatuh, tapi lebih kepada kekurangan diri yang tidak mampu untuk mengawal insan.

Bila difikir-fikirkan semula, gender dan sifat semulajadi diri itu boleh jadi satu penghalang, tembok China untuk mengurusi sesuatu perkara.

Sepanjang Syawal daripada Ramadhan, bulan berfikir. Bertafakur. Mencari diri. Titik diri yang telah hilang. Letak duduk diri sebagai hamba di hadapan Dia. Arah tuju hidup, menghala ke mana?

Pernah saya ditanya; "Berapa kali mesti calibrate diri dengan Allah?"

Jawapan saya di dalam hati: Setiap saat. Sebab saya insan lemah. Dalam transisi berubah. In the most fragile condition.

Pada satu tahap, saya begitu sibuk mengurusi perubahan diri. Tapi batu asas pada perubahan itu tidak diletakkan pada sesuatu yang hak. Saya berubah kerana saya fikir itu akan buatkan saya jadi manusia lebih baik.

common sense; it does. Tapi disebabkan kurang self-regulatory, walau tinggi mana self awareness it doesn't last long.

Maka saya teruskan pencarian, that I believe I need to hold on to the stronger and firmer branch other than myself. Definitely not to human being because human has limitation and their own capacity.

Dan saya jumpa that firm and strong branch. I do. Dalam pencarian melalui pengalaman sepanjang ramadhan. Rupanya sepanjang Ramadhan, Allah mengajar saya untuk menggunakan segala deria yang ada untuk belajar dan mengambil pengajaran daripada keadaan sekeliling. Ya, kembali menggunakan segala deria yang ada.

Malah Allah juga  mengajar saya untuk berfikir keluar daripada terowong. Sedikit demi sedikit. Jujur ia tidak mudah. Sayangnya Allah pada hambaNya, Dia hantar seorang hambaNya yang telah Dia didik untuk mendidik saya pula. Dan untuk itu, saya sangat bersyukur di atas nikmat ini. Dan berterima kasih teramat kepada insan tersebut.

Dan saya percaya sepenuhnya, untuk mempunyai SQ yang cukup itu tidak susah. Kerana agama ini fitrah. Sesuai dengan sifat manusia. Tetapi untuk memupuk EQ dan IQ itu tidak mudah. Namun, melalui SQ yang mantap, EQ dan IQ akan dapat dipupuk dengan lebih mudah.

Buka mata dan hati.

You'll definitely see it. Insya Allah.

Hadiah untuk syawal ini untuk kita sama-sama hayati:



semoga Allah menerima amal kita sepanjang ramadhan dan kebaikan ramadhan ini dapat dibawa ke sebelas bulan seterusnya, insya Allah.









Monday, August 6, 2012

Love & Detachment

in the name of Allah The Most Beneficent The Most Merciful

Selepas membaca artikel daripada Tariq Ramadhan bertajuk Love and Detachment. Saya terdiam. Berfikir. Often the object that we loved becomes our attachment. Our very focus until sometimes we lost our true self through it.

Love is an initiatory school in which we learn to make progress, to rise above ourselves and then to free ourselves, but it can also be a prison in which we are bound by more and more chains. We go under, get lost and eventually become totally dependent... -Tariq Ramadhan


Tak mudah untuk detach diri daripada sesuatu yang kita sukai dan cintai. It was way hard. Tapi tak mustahil. Sama ada kita sanggup. Atau pun tidak.

Love is therefore like education. It involves “going with” and learning to detach ourselves with an ever-greater awareness of the ambivalence of things and of the need for balance, which is always so difficult to achieve and so fragile.. 
To love without being dependent. Nothing could be more difficult, and doing so requires a long apprenticeship that is both demanding and sometimes painful. The goal is to love without any illusions. That is all the more difficult in that we sometimes have the impression that love means being deluded. How can we graduate from the illusion of love to the lucidity of love? How can we detach ourselves from the very thing to which we are, by definition, attached? One does not choose to love but one can choose how to love. Nature is the mirror before which we must raise our faces, gaze into proximity and distance, in the knowledge that, whilst we are now fully present, the earth will give the same fullness to others as it sanctifies our absence. The mirror of time and the infinite spaces reflect it, the liberated self understands it, and the One repeats it: to love is to be there, in proximity to the extraordinary in the ordinary, and to offer, give and forgive. To love is to reconcile the sedentary presence with nomadic migration, the roots of the tree with the strength of the winds. To love is to receive and to learn to let beings go. To love is to give and to learn to go. And vice versa.. -Tariq Ramadhan


Definisi Cinta?


Mencintai bermakna bersedia melepaskan, bersedia berkorban dan berusaha untuk menjadi lebih baik demi Pencipta Cinta itu sendiri.

It is our nature to love..to love things, human being  and other living things as well. But we can always choose  how to love them all..

Dan saya tahu, untuk kali ini saya harus belajar mencintai dengan cara yang lain. Bukan seperti kebiasaan..ia harus penuh dengan kebaikan, membawa kepada kebaikan dan mengubah kita kepada kebaikan.. How? that is my job to determine and definitely with His guidance as well..

The Test

Upon this coming ramadhan, He puts me on a test. In which I am still indecisive at the moment. It wasn't actually a heavy one if it excludes feelings and emotions. By right, I have already had the answer in my heart. It is just the matter of delivering it only. But I don't have that strength. yet. Macam mana nak melepaskan pergi benda yang kita dah nanti beberapa lama dan benda yang paling kita sukai disebabkan situasi tidak begitu mengizinkan..?

Not that easy..


The Imperfect Life

Seperti Joker yang mempunyai 2 wajah berbeza, seperti itulah kehidupan. Hidup ini tak pernah sempurna dan tak akan sempurna. There will always be happily never after.

Because that happily ever after is only exists in Jannah. :) Di situ destinasi hidup kita sebenar-benarnya..dari awal lagi..

Sebab itulah mencintai itu tak pernah happily ever after.it is always a mixed of feelings and is an on going learning process of being the best person we should always be..


Hadiah untuk hati sendiri dan yang sedang membaca, something for us to ponder along this ramadhan kareem;
"jika engkau merasa bahwa segala yang disekitarmu gelap dan pekat, tidakkah dirimu curiga bahwa engkaulah yang dikirim oleh Allah untuk menjadi cahaya bagi mereka? berhentilah mengeluhkan kegelapan itu, sebab sinaranmulah yang sedang mereka nantikan, maka berkilaulah! "

-Salim A.Fillah-







Mind Lucidity..

in the name of Allah The Most Beneficent The Most Merciful

As salam and morning dear readers (if any.. hehe)

Alhamdulillah, sampai sudah kita ke 17 Ramadhan. Selangkah lagi ke fasa akhir Ramadhan. Masya Allah. Inilah Ramadhan paling lama dirasakan di hati. Dan ada ibrah penting yang saya kutip kali ini..

Ramadhan 2012..

Jujur dari hati, saya fikirkan mungkinkah ini Ramadhan terakhir berstatus 'Single'? Mungkin saja. Allah itu Maha Pengatur, dan aturanNya itu kadang-kadang out of the blue dan tanpa disangka-sangka. Mana tahu dapat hadiah jatuh dari langit ramadhan kali ni?.. Hem. Berangan kan?

Ramadhan 2005-2008..

Sepanjang-panjang 4 tahun itu saya berpuasa bersama teman baik merangkap roomate di UTP, terlalu banyak kenangan tercipta yang kebanyakannya sudah terurai dari kotak memori. Tetapi kenangan bersama nasi lemak kukus pasti akan tetap terpahat di hati. He.

Manakan tidak, sehati sejiwalah katakan, sehingga setiap kali berbuka 7-8 ringgit untuk sebungkus nasi lemak kukus V5 itu sudah menjadi lumrah. Sampaikan pakcik jual nasi lemak pun sudah faham kerenah kami berdua.

Kadang-kala sampai berkongsi 3-4 orang sebungkus! Indah kenangan dulu. Berkongsi makanan itu sungguh salah satu cara terbaik mengeratkan hubungan. Ada keberkatan di situ yang Allah turunkan, sama ada kita sedar atau pun tidak..

Masjid An-Nur indah bercahaya pun mulai penuh dengan jemaah UTP saat azan isyak berkumandang. Dan selalunya menggigil nak bersolat di situ dek kerana aircond yang kuat dan lantai marmar yang membeku. Di situ lah tempat teraman dan paling damai di bumi UTP.

Tempat yang saya rasakan sebagai kubu paling selamat, jauh dari segala ketegangan dan stress disebabkan assignments, meeting dan project yang tak berhenti.

Tidak ada apa yang boleh mengganggu gugat tenteram dalam hati yang saya cari dari Dia.

Dan tanpa saya sedar, saya kehilangan kubu paling aman itu setelah graduasi..

Ramadhan 2009..

Saya habiskan di kampung menemani nenek. Berdua, makan ala kadar saja. Pernah sekali, saya kepingin maggie kari sebagai juadah berbuka. Benar, tidak semeriah seperti di rumah dan UTP dengan pelbagai kuih-muih dan lauk pauk dan makan sekadar apa..Itu cukup buat saya.

Kerana yang penting bukan berapa banyak makanan yang kita ada, tetapi dengan siapa dan hasil air tangan siapa itu yang lebih bermakna.

Hujung minggu, lebih meriah kerana seluruh keluarga besar kembali berkumpul..

Walaupun saat itu saya sepatutnya telah bekerja , tetapi saya memilih untuk tinggal di kampung dengan nenek. Duduk dan menemaninya. Melayan kerenah dan celotehnya tanpa henti tu. Membawa nenek ke mana-mana yang dia ingin pergi dan berjalan.

Kerana saya tahu, sampai waktu saya sudah bekerja nanti, saya tak akan punyai waktu yang sebanyak ini lagi untuk menemaninya. Tak akan punyai waktu yang cukup untuk sentiasa di sisinya, mendengar celoteh dan belajar tentang erti hidup dengannya.

Dan bukan nenek saja yang saya temani sebenarnya. 2 orang lagi nenek saudara pun turut sama memeriahkan rumah nenek. Melihat mereka, terdetik di hati saya tentang betapa sunyinya hati seorang ibu. Anak-anak yang jauh di bandar, sibuk bekerja. Entah dengan siapa hendak bercerita agaknya.

Untung mereka bertiga. Dan ada saya untuk melayan dan membuat lawak sengal. He. Dan saya bersyukur sangat dengan keputusan saya saat itu.

Kerana itulah ramadhan terakhir yang saya bisa luangkan sepenuhnya bersama salah seorang nenek saudara.

Dan walaupun sekadar menemani, saya belajar sesuatu..paling bermakna dari Allah..


"Happiness is contagious..when you make someone happy, you'll feel it too inside your heart.."

Lebih-lebih lagi dengan keluarga sendiri. Yang memang Allah tuntut sangat. Dan walaupun apa yang kita lakukan itu tak seberapa pun sebenarnya. Bahkan tanpa melibatkan wang ringgit dan material yang cantik dan mahal.

Ramadhan 2010...

Adalah yang paling mencabar. Kerana setiap hati di dalam keluarga kami berusaha untuk bertabah menghadapi dugaan hidup. Berbicara tentang arwah adik bagaikan suatu larangan buat saya kerana saya tidak cukup kuat untuk melupakan sedih itu.

Terasa benar lohong kosong di dalam hati atas kehilangan yang tak pernah terganti..

Namun saya belajar suatu perkara terpenting di atas kehilangan ini;

"Don't wait for the right moment to show or say your love to your loved ones..do it constantly and continuously..because while waiting for the right moment, you might loose the person him/herself.."

Satu saat yang telah berlalu, tak akan pernah sama dengan satu saat yang kita hadapi sekarang atau yang akan kita miliki nanti..

Allah sendiri telah terangkan tentang hakikat masa ini dalam surah Al-Asr.



Demi Masa! (1)

Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian(2)

Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal soleh dan nasihat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasihat menasihati supaya menetapi kesabaran(3)

Ramadhan 2011...

Mengajar saya bahawa kehidupan itu mesti seimbang..dan sampai saat ini, saya masih lagi struggling di antara  dua..

Dan kosong hati itu tak akan pernah terisi dengan seribu segala isi dunia..dan tidak akan pernah kita dapat penuhinya daripada hati-hati yang juga kosong..



Berbalik kepada Ramadhan 2012..

Seandainya bisa, sudah lama ingin saya buat masjid hopping bersama Roommate. Atau backpacking! he. Ok, ni tipu. 

Selepas beberapa peristiwa berlaku yang membawa kepada pertapaan nun jauh di celah hutan sana, membawa saya berfikir dari segala sudut, dan aspek hidup. Tentang hala tuju sebenar-benarnya, tentang perancangan seterusnya dan expected insight and result..

Yang mana setiap kali berfikir, segala yang pernah diterapkan oleh seseorang comes to my sense as the most logical and practical things. And it is always like that. 

Self-awareness, Regulatory, EQ..semuanya menuntut perhatian buat masa ini. Dan semoga setiap langkah yang diambil tidak terhenti di tengah jalan..insya Allah.

Dan saya tahu asbab kenapa Allah let our life cross each other. Untuk belajar sesuatu daripada mereka yang saya perlukan di dalan hidup dan untuk memberikan sesuatu kepada mereka yang Allah telah ajarkan kepada saya sebelumnya..

Cuma along the way, saya kehilangan apa yang saya ada. So it is truly unfair jika hanya menjadi penerima, which is i am at the moment. Siapa pun akan merasa letih dengan situasi itu. 

I am still trying to gain back what I have lost along the way..

Semoga sentiasa dikuatkan Allah untuk mujahadah ini..yang western panggil Self Improvement & development..




Sunday, June 24, 2012

untuk hati..yang selalu lupa..

in the name of Allah The Most Beneficent The Most Merciful

Hari ini sebelum kita mengatakan kata-kata yang tidak baik,
Fikirkan tentang seseorang yang tidak dapat berkata-kata sama sekali.

Sebelum kita mengeluh tentang rasa dari makanan,
Fikirkan tentang seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum anda mengeluh tidak punya apa-apa,
Fikirkan tentang seseorang yang meminta-minta dijalanan.

Sebelum kita mengeluh bahawa kita buruk,
Fikirkan tentang seseorang yang berada pada keadaan yang terburuk di dalam hidupnya.

Sebelum mengeluh tentang suami atau isteri anda,
Fikirkan tentang seseorang yang memohon kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup.

Hari ini sebelum kita mengeluh tentang hidup,
Fikirkan tentang seseorang yang meninggal terlalu cepat.

Sebelum kita mengeluh tentang anak-anak kita,
Fikirkan tentang seseorang yang sangat ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul.

Sebelum kita mengeluh tentang rumah yang kotor kerana pembantu tidak mengerjakan tugasnya,
Fikirkan tentang orang-orang yang tinggal dijalanan.

Dan di saat kita letih dan mengeluh tentang pekerjaan,
Fikirkan tentang pengangguran, orang-orang cacat yang berharap mereka mempunyai pekerjaan seperti kita.

Sebelum kita menunjukkan jari dan menyalahkan orang lain,
Ingatlah bahawa tidak ada seorangpun yang tidak berdosa.

Dan ketika kita sedang bersedih dan hidup dalam kesusahan,
Tersenyum dan berterima kasihlah kepada Tuhan bahawa kita masih hidup!



*found this through blog-walking..


ps: kita selalu terlupa, bahawa hakikat diri kita dan segala nikmat ini..bukan selamanya milik kita..bahkan tidak pernah jadi milik kita secara mutlaknya. ia hanya pinjamam semata-mata..dan atas dasar hak apa untuk kita merasa bahawa kita adalah yang terbaik di antara selautan manusia sedangkan di hadapan Dia, entah di mana letak duduk diri kita yang sebenar-benarnya..

Saturday, February 25, 2012

during sleepless night..



in the name of Allah The Most Beneficent The Most Merciful


okay. this is the third night, I woke up during midnight. dan hilang rasa kantuk yang sepatutnya wujud demi untuk membolehkan mata terpejam dan otak berehat.


This is gonna affect my body clock later. not a good sign. By the way, im in love with all the songs in Glee. I know. I know. Orang dah lama suka baru sibuk nak suka jugak. kan?


Let's enjoy with the selected youtube videos. Look for the meaning in between the lyrics. *winks!

And oh! there is something useful I want to share..

"Giving is a miracle that can transform the heaviest of hearts. Two people, who moments before lived in separate worlds of private concerns, suddenly meet each other over a simple act of sharing. The world expands, a moment of goodness is created, and something new comes into being where before there was nothing.


To often we are blind to this everyday miracle. We build our lives around accumulation--of money, of possessions, of status--as a way of protecting ourselves and our families from the vagaries of the world. Without thinking, we begin to see giving as an economic exchange--a subtracting of something from who and what we are--and we weigh it on the scales of self-interest.


But true giving is not an economic exchange, it is a generative act. It does not subtract from what we have; it multiplies the effect we can have in the world.


Many people tend to think of giving only in terms of grand gestures. They miss the simple openings of the heart that can be practiced anywhere with almost anyone.


We can say hello to someone everybody ignores. We can offer to help a neighbor. We can buy a bouquet of flowers and take it to a nursing home, or spend an extra minute talking to someone who needs our time.


We can take ten dollars out of our pocket and give it to someone on the street. No praise, no hushed tones of holy generosity. Just give, smile, and walk away.


If you perform these simple acts, little by little you will start to understand the miracle of giving. You will begin to see the unprotected human heart and the honest smiles of human happiness. You will start to feel what is common among us, not what separates and differentiates us.


Before long you will discover that you have the power to create joy and happiness by your simplest gestures of caring and compassion. You will see that you have the power to unlock the goodness in other people's hearts by sharing the goodness in yours.


And, most of all, you will find the other givers. No matter where you live or where you travel, whether you speak their language or know their names, you will know them by their small acts, and they will recognize you by yours. You will become part of the community of humanity that trusts and shares and dares to reveal the softness of its heart.


Once you become a giver you will never be alone."

-Simple Truth by Kent Nerburn-

Ps: Please note that you will always be my special lil giver and that you're not alone..will never be..insya Allah. *wink!




Wednesday, August 17, 2011

17 august ini hari apa kawan-kawan?

in the name of Allah The Most Beneficent The Most Merciful

YES. hari cuti se'Selangor'. *sengih. Tak. Malang sekali kerana saya tidak tahu bahawa hari ini adalah hari cuti. *menyesal apply cuti minggu lalu. Tapi kalau mengikut kalendar office, Khamis Jumaat ini bakal padat dengan meeting. Oh, lupakan saja hasrat itu. Minggu lepas adalah waktu terbaik kerana tiada isu kritikal.

*senyum.

17 ogos juga bersamaan 17 ramadhan. kita mengenali tarikh ini sebagai nuzul Quran. ma maana? (ecey, speaking arab sikit pagi-pagi ni) tarikh di mana Quran diturunkan. Tetapi bukanlah bermaksud turun sekali *gedebuk! atas bukit macam tu.

Tak. bukan begitu. wrong. wrong. Kalau nak tahu boleh layari page ini


semoga bermanfaat. insya Allah. *senyum

Tuesday, June 28, 2011

a lost soul...

in the name of Allah The Most Beneficent The Most Merciful



Hati adalah salah satu anugerah Allah swt yang tidak ternilai harganya bagi manusia. Dengan hati, manusia dapat merasakan suka, duka, bahagia, derita, kecewa, bangga, dan lain-lain. Dengan hati, manusia dapat meraba persaan orang lain. Dengan hati, manusia dapat membuat kehidupan ini penuh dengan kedamaian dan kasih sayang. Memang, hati adalah keajaiban yang senantiasa menuntun manusia pada cahaya. Namun, hati pun dapat terluka dan menderita penyakit yang sangat membahayakan pemiliknya. Apa sajakah penyakit yang dapat menggerogoti hati? Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

Allah swt telah melengkapi manusia dengan perangkat tubuh yang disebut dengan hati. Hati ini, pada dasarnya telah diciptakan bersih oleh Allah swt bersih dari berbagai macam penyakit. Namun, seiring dengan nafas kehidupan yang terus berhembus dan kian menua dalam rimba kehidupan, perlahan hati pun mulai terkontaminasi, terkotori, dan akhirnya menjadi tempat bersemayamnya berbagai macam penyakit, yang salah satunya adalah penyakit gelisah.


ali menyerang pertahanan hati. Gelisah merupakan penyakit hati yang banyak menyerang manusia, baik orang tua maupun para generasi muda.

“Gelisah”, inilah salah satu jenis penyakit yang sering k

Gelisah merupakan salah satu penyakit hati yang sangat berbahaya. Satu penyakit hati ini saja mampu memberikan berbagai efek negatif dalam kehidupan seseorang. Karena gelisah, seseorang dapat terjerumus kepada pelarian yang tidak semestinya, seperti malas belajar dan sekolah, malas bekerja, minum minuman yang memabukkan dan menggunakan obat-obatan terlarang (miras), terjerumus pada seks bebas, terdampar dalam dunia diskotik yang penuh dengan maksiat, dan berbagai sarana pelarian lainnya yang mengandung unsur-unsur maksiat. Jadi, satu penyakit hati ini saja dapat menimbulkan berbagai macam efek negatif dalam kehidupan seseorang, minimal akan menurunkan dan atau menghilangkan prestasinya, dan maksimal akan melemparnya ke limbah maksiat dan dosa.


Gelisah, memang satu penyakit hati yang sangat berba

haya namun hampir tidak pernah dipertimbangkan oleh kebanyakan manusia. Karena, biasanya mereka sudah memiliki cara masing-masing untuk menghilangkan gelisah tersebut. Ada yang menghilangkannya dengan cara-cara yang sesuai atau tidak melanggar syariat, namun banyak pula yang menghilangkan penyakit tersebut dengan cara-cara yang menyimpang dari syariat. Akibatnya, gelisah mereka hilang, dosa pun menerkam.


Allah swt telah menciptakan dan menganugerahkan hati bagi manusia sebagai salah satu perangkat kehidupan yang sangat vital, yang akan membantu melihat dan mendengar seruan



Allah swt, yang akan membantunya dapat merasakan apa yang tengah dirasakan oleh orang lain. Namun, kita juga mengetahui bahwa segala sesuatu itu ada, tiada, terjadi, dan tidak terjadi hanya karena Allah swt. Dari sana, kita juga tahu bahwa Allah swt-lah yang telah menciptakan penyakit, dan Allah swt-lah yang memiliki penawarnya. Dan satu-satunya penawar yang paling efektif dan tidak bertentangan dengan syariat Islam untuk menangkal atau mengobati penyakit gelisah adalah dengan cara selalu

mengingat Allah swt, sebagaimana telah dikatakan dengan jelas oleh Allah swt di dalam Al Quran, yang artinya:


“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengin

gat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du : 28)


Dalam ayat di atas, Allah swt telah dengan tegas dan jelas mengatakan bahwa “… hanya dengan mengingat Allah swt-lah maka hati akan menjadi tenteram”. Maka tidak ada lagi p

enawar dan penangkal yang lebih baik dan lebih barakah lagi selain dengan cara mengingat Allah swt. Lalu, bagaimanakah yang dimaksud dengan mengingat Allah swt tersebut?

Banyak cara yang dapat dilakukan untuk mengingat Allah swt, misalnya berdzikir, sholat, mempelajari dan membaca Al Quran serta mengamalkannya, senantiasa bersyukur kepada Allah swt, meyakini pertolongan Allah swt, dan perbanyak merenungi tanda-tanda kebesaran Allah swt yang terdapat di alam semesta maupun fakta sejarah.


1. Dzikrullah (dzikir kepada Allah swt)

Dzikir kepada Allah swt merupakan salah satu cara yang sangat ampuh agar selalu mengingatkan kita kepada Allah swt. Kenapa demikian? Karena, dzikir dapat dilakukan kapanpun dan dimanapun (kecuali ketika tengah berada di dalam toilet atau sedang buang air), serta oleh siapapun (tua maupun muda, laki-laki maupun perempuan, sedang berhadats maupun dalam keadaan suci).

Dzikir juga merupakan salah satu amalan yang sangat mudah dan ringan untuk dikerjakan, dapat dilakukan di dalam hati maupun disuarakan dengan lisan. Dzikir ini pun tidak diikuti aturan mengenai batas minimal atau maksimal untuk melakukannya, intinya adalah niat dan keikhlasan kita.

Mengingat Allah swt melalui berdzikir dapat dilakukan dengan cara mengucapkan kalimat-kalimat thoyyibah (seperti, astagfirullaahal’adhim, subhanallah, alhamdulillah, Laa ilaa ha Illallah, Allahu Akbar) secara lisan maupun di dalam hati berulang-ulang dan terus-menerus, sebanyak yang kita mampu.

Dzikir merupakan salah satu media untuk mengingat Allah swt dalam segala aktivitas (kecuali pada saat buang air atau sedang berada di dalam toilet), ketika berbaring, duduk, maupun berdiri.

“… Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah(berdzikir) hati menjadi tenteram.” (QS. Ar Ra’du : 28)

Satu hal yang harus diingat adalah, untuk dapat selalu mengingat Allah swt dan berhasil menghapus atau menangkal rasa gelisah, dzikir tidak hanya dilakukan sebatas ucapan lisan dan atau hati saja. Dzikir kepada Allah swt merupakan rangkaian aktivitas yang melibatkan segenap hati, lisan, dan juga perbuatan. Tanpa bersatunya ketiga aspek tersebut, maka sulit pula atau bahkan tidak mungkin bagi hati kita untuk bersatu dengan Allah swt.

2. Sholat

Sholat yang merupakan ibadah paling utama bagi umat muslim juga merupakan salah satu sarana penangkal dan penawar berbagai macam penyakit hati yang bersarang di dalam dada manusia. Jelas saja, sholat merupakan ibadah yang totalitas hanya mengingat kepada Allah swt, yang secara total juga hanya diisi dengan kalimat-kalimat dzikrullah, ayat-ayat Allah swt.

“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (QS.Az Zumar : 23)

Sholat merupakan aktivitas komunikasi langsung dengan Allah swt, Zat yang menggenggam dan menguasai segala hati, yang menciptakan penyakit dan yang menyembuhkannya tanpa rasa sakit. Jika seseorang telah terhubung dan berkomunikasi dengan Allah swt secara langsung dalam sholat yang khusyuk, maka mustahil baginya terserang penyakit gelisah. Karena gelisah menyerang hati, dan Allah swt-lah yang menggenggam dan menguasai segala hati.


3. Membaca, mempelajari, dan mengamalkan Al Quran

“ Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang , gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.” (QS.Az Zumar : 23)

“… kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah …”, itulah janji Allah swt kepada hamba-Nya senantiasa mengistiqomahkan diri mereka untuk selalu membaca, mempelajari, dan merenungi ayat-ayat Al Quran secara terus-menerus.

Di sinilah, salah satu nilai pentingnya mengamalkan dan membaca Al Quran secara kontinyu. Karena, Al Quran merupakan kitab yang berisikan kalimat-kalimat yang penuh dengan kebaikan, ayat-ayat Allah swt yang telah diturunkan di bulan yang penuh dengan barakah, bulan Ramadahan, maka tidak heran dan tidak perlu lagi untuk diragukan bahwa Al Quran akan menjadi penenang hati-hati yang membacanya, bahkan bagi para pendengarnya, sebagaimana firman Allah swt di dalam Al Quran, yang artinya:

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhanlah mereka bertawakkal”. (QS. Al Anfal : 2)

Senantiasa basahi lidah dan jiwa kita dengan lantunan kalimat-kalimat Allah swt yang termuat di dalam Al Quran, niscaya ketenangan jiwa akan menjadi milik kita.

4. Bersyukur Kepada Allah swt

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumatkan, Jika kamu bersyukur akan karuniaKu, pasti Aku tambah untukmu, jika kamu ingkar, sesungguhnya azabKu sangat pedih”. (QS. Ibrahim: 7)

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan (dengan) sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tentram, rizkinya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi (penduduk) nya mengingkari nikmat-nikmat Allah; karena itu Allah merasakan kepada mereka pakaian kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang selalu mereka perbuat”. (QS. An Nahl : 112)

Kedua ayat di atas telah memberikan gambaran mengenai peranan rasa syukur kepada Allah swt. Pada QS. Ibrahim: 7, Allah swt telah mengatakan bahwa Allah swt akan menambahkan nikmat-Nya kepada orang-orang yang bersyukur atas segala yang telah mereka peroleh dan mereka miliki. Dan Allah swt akan mengazab orang-orang yang mengingkari nikmat Allah swt (tidak mau bersyukur) dengan azab yang sangat pedih.

Dan pada QS. An Nahl : 112, Allah swt telah memberikan gambaran kepada kita mengenai nasib orang-orang yang tidak mau bersykur atau ingkar kepada Allah swt. Allah telah mengazab mereka dengan kelaparan dan ketakutan.

Dari gambaran kedua ayat di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa orang-orang yang senantiasa bersyukur akan memperoleh tambahan nikmat. Hal ini tentu saja akan menambah ketenangan bagi mereka yang memperolehnya. Atau boleh jadi nikmat yang ditambahkan itu berupa nikmat ketenangan jiwa yang selalu dicari-cari oleh kebanyakan atau seluruh manusia. Sedangkan bagi mereka yang ingkar atau tidak mau bersyukur, maka Allah swt akan mengazab mereka dengan azab yang sangat pedih. Pada surah An Nahl : 113, Allah swt telah mengazab orang-orang semacam ini dengan kelaparan dan ketakutan.

Kalau seseorang telah mendapat azab dari Allah swt, baik berupa kelaparan, kehausan, kemiskinan, kebodohan, ketakutan, atau azab dalam bentuk apapun, maka mustahil bagi mereka untuk merasakan ketenangan dalam hidupnya.

5. Yakinlah akan pertolongan Allah swt

“Masalah”… Ya, “masalah”, itulah yang menjadi pemicu utama timbulnya kegelisahan dalam jiwa seseorang. Banyak sekali manusia, bahkan mungkin hampir setiap manusia akan merasakan penyakit gelisah ini manakala dihadapkan pada suatu permasalahan. Rasa takut terhadap berbagai masalah yang menimpanya. Takut tidak dapat menyelesaikannya. Takut tidak ada yang akan menolongnya keluar dari masalah tersebut.

Di sinilah, hendaknya kita mulai untuk yakin kepada Allah swt. Ya, sebagai seorang muslim hendaknya kita mulai menanamkan secara mendalam di dalam jiwa kita bahwa Allah swt adalah satu-satunya pemberi petunjuk dan pertolongan yang terbaik bagi umat-Nya. Dan satu hal lagi yang wajib kita yakini adalah bahwa pertolongan Allah swt itu dekat kepada umat-Nya.

Dengan meyakini bahwa pertolongan Allah swt itu dekat, maka kegelisahan pun niscaya akan hilang. Karena kita tahu dan yakin bahwa Allah swt pasti akan menolong hamba-Nya yang membutuhkan.

“Dan Allah tidak menjadikan pemberian bala bantuan itu melainkan sebagai khabar gembira bagi (kemenangan)mu, dan agar tentram hatimu karenanya. Dan kemenangan itu hanyalah dari Allah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana”. (QS. Al Imran : 126)

“bilakah datangnya pertolongan Allah?”. Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat”. (QS Al Baqarah : 214).

6. Merenungi tanda-tanda kebesaran Allah swt

Satu hal lagi yang harus dilakukan untuk menghilangkan gelisah dan memperoleh ketenangan batin adalah dengan jalan selalu merenungi tanda-tanda kebesaran Allah swt.

Allah swt telah menciptakan alam ini dengan kekuasaan-Nya yang luar biasa. Dan di sanalah terdapat beraneka tanda-tanda kekuasaan-Nya bagi orang-orang yang mau berpikir dan merenungkannya. Di sana ada siang dan malam yang terus silih-berganti dengan waktu yang tetap, siapa yang memberikan jadwal? Di sana ada planet-planet yang beredar di garis edarnya masing-masing dan tidak pernah berenturan ataupun berebutan, siapa yang mengaturnya? Di sana ada langit yang luas luar biasa mengambang tanpa penyanggah, siapa yang menopangnya? Di sana ada buah duriann matang yang manis rasanya, siapa yang menaburinya dengan gula? Di sana ada buah kelapa muda yang jika dibelah ada airnya yang sangat segar, siapa yang menuangkannya? Berikut firman Allah swt di dalam Al Quran:

“Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al-Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?” (QS. Al Fushshilat : 53)

“Dan Dia lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua buah-buahan berpasang-pasangan, Allah menutupkan malam kepada siang. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan”. (QS. Ar Ra’du : 3)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati(kering)nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan “. (QS. Al Baqarah : 164)

“Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kukuh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah)”. (QS. Qaf : 7 – 8)

“Dan Dia menancapkan gunung-gunung di bumi supaya bumi itu tidak guncang bersama kamu, (dan Dia menciptakan) sungai-sungai dan jalan-jalan agar kamu mendapat petunjuk”. (QS. An Nahl : 15)

“Dan Kami telah menghamparkan bumi dan menjadikan padanya gunung-gunung dan Kami tumbuhkan padanya segala sesuatu menurut ukuran”. (QS. Al Hijr : 19)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang yang berakal….” (QS. Ali Imran : 190)

Selain itu, kita juga dapat merenungi kebesaran-kebesaran Allah swt melalui fakta-fakta sejarah yang banyak diceritakan di dalam Al Quran dan Al Hadits.

Demikianlah artikel sederhana mengenai “Mengingat Allah Adalah penangkal dan Penawar Gelisah”. Semoga artikel sederhana ini dapat memberikan barakah bagi kita semua. Amin

www.syahadat.com

Wednesday, August 25, 2010

15 ramadhan 1431

in the name of Allah The Most Beneficent The Most Merciful

salam.

lama rasanya tak menulis. susah. seperti terikat segalanya. apa yang ada di minda sekadar berlegar-legar tak mampu dikupas dan diterjemahkan dalam bentuk ayat. kalau jadi penulis ni, mau terlebih dateline dibuatnya. heh. ;p

alhamdulillah. tak sangka, sudah masuk 15 ramadhan hari ni. entah mampu atau tak untuk bertarawikh di surau an-nur lagi. bercakap tentang an-nur, ada suatu tempat bernama an-nur yang mengundang seribu satu rindu dalam hati.

An-Nur, rumahNya di UTP. betapa saya teramat rindukan saat-saat itu. yea. saat-saat yang tak mungkin akan berulang. rindu pada sebuah ukhuwah yang terbina atas dasar iman semata-mata. rindu pada kasih yang terjalin atas dasar kasih saudara seakidah. rindu pada teman-teman itu. yang sengaja saya jauhi. bukan membenci. tapi sebab saya yang terlalu jauh berlari.

tak ape lah. cerita lama usah dibuka. biar saja saya lipat kemas dalam diari hati. jadi pengajaran. atas satu keputusan paling bodoh saya pernah ambil.

dan saya sangka kan itu lah ujian terberat dalam hidup. tapi rupanya, Allah sedang mempersiapkan saya untuk satu ujian yang lebih berat. kehilangan kekasih hati saja sudah buat saya menangis setiap hari selama setahun.

tapi akhirnya, saya tetap mampu bangun semula, walaupun berkali-kali jatuh. dan Allah tak sesekali membiarkan saya terkapai-kapai mencari arah tuju sendirian. langkah demi langkah tetap setia menuntun diri saya.

Perginya seorang adik secara tiba-tiba, bukan sekadar membuatkan saya jatuh terduduk. bahkan, permergiannya adalah petunjuk buat saya. buat kami sekeluarga. sebenarnya, Allah dah bagi tanda-tanda, cuma saya saja yang tak faham. sebab?

mungkin kerana hati yang keras. dek terlalu kurangnya amal..bukan semudah itu hati mampu untuk menafsir pentunjuk Ilahi kalau wahan itu dah bersawang di jiwa dan beraja di hati. penyakit moden zaman sekarang. cuma kita saja yang tak sedar. dan mungkin sengaja tak mahu sedar bila dah tahu. itu lah manusia. (eh, dah melalut.)

ramadhan 1431...

saya tak tahu nak mula daripada mana. tapi seandainya saya bersujud, dan diberi masa selama-lamanya oleh Allah, pun tak akan mampu untuk membayangkan betapa bersyukurnya saya di atas segala-galanya daripada Dia.

sabar itu sudah mula berbuah manis.

dan saya,

saya mulai kembali kepada sebahagian diri yang ditinggalkan atas sebab yang terlalu rumit. saya masih tetap saya. tetapi saya yang pernah saya setkan sebagai benchmark, kayu pengukur itu, sudah hampir kembali semula.

sekolah al mubarak kali ni, saya berazam untuk mengutip segala ibrah dan pengajaran. untuk mendidik diri sendiri. supaya menjadi seperti yang pernah diimpikan.

kpi di antara saya dan Tuhan. itu yang saya kejar dan cuba perbaiki. dunia ini cumalah satu alat untuk kita mendapatkan keredhaanNya dan kehidupan terbaik di akhirat. nothing more than that.



Ya Allah,
kurniakanlah daku perasaan cinta kepadaMu,
dan cinta kepada orang yang mengasihiMu,
dan apa saja yang membawa daku menghampiri cinta-Mu,
Jadikanlah cintaMu itu lebih aku hargai daripada air sejuk bagi orang yang kehausan,

Ya Allah,
sesungguhnya aku memohon cintaMu,
dan cinta orang yang mencintaiMu,
serta cinta yang dapat mendekatkan aku kepada cintaMu,

Ya Allah,
apa sahaja yang kau anugerahkan kepadaku daripada apa yang kucintai,
Maka jadikanlah ia kekuatan untukku mencintai apa yang Engkau cintai.
Dan apa saja yang Engkau singkirkan daripada apa yang kucintai,
Maka jadikanlah ia keredhaan untukku dalam mencintai apa yang Engkau cintai.

Ya Allah,
jadikanlah cintaMu cinta yang paling aku cintai
daripada cintaku kepada keluargaku,
hartaku dan air sejuk pada saat kehausan.

Ya Allah
jadikanlah aku mencintaiMu,
malaikatMu, rasulMu dan hambaMu yang soleh,

Ya Allah,
hidupkanlah hatiku dengan cintaMu
dan jadikanlah aku bagiMu seperti apa yang Engkau cintai,

Ya Allah,
jadikanlah aku mencintaiMu dengan segenap cintaku dan seluruh usahaku demi keredhaanMu.

(Hadis Riwayat At-Tirmizi, Rasulullah SAW bersabda, “Inilah doa yang biasa dipanjatkan oleh Nabi Daud a.s)




Saturday, August 21, 2010

cinta ini

in the name of Allah The Most Beneficent The Most Merciful


Sekiranya
kita cinta kepada manusia
tidak semestinya manusia cinta kepada kita

Tetapi sekiranya
kita cinta kepada Allah
nescaya cinta Allah tiada penghujungnya

Sekiranya
kita cinta kepada manusia
kita akan cemburu kepada orang yang
mencintai orang yang kita cintai

Tetapi sekiranya
kita cinta kepada Allah
kita akan turut mencintai orang yang
melabuhkan cintanya kepada Allah juga

Ya Allah
andainya dia adalah jodoh
yang ditetapkan oleh-Mu kepadaku

Maka
campakkanlah ke dalam hatiku
cinta kepadanya adalah kerana-Mu
dan campakkanlah ke dalam hatinya
cinta kepadaku adalah kerana-Mu jua

Namun
andainya dia bukanlah jodoh yang
ditetapkan olehMu kepadaku
berikanlah aku kekuatan
agar pasrah
dalam mengharungi ujian
yang Dikau berikan kepadaku..


petikan: sajak Aminah Qutb kepada suaminya; daripada buku Cinta setelah Allah dan Rasul karangan Fatimah Syarha.